Dia , dia itu apa adanya, sangat amat apa adanya. Lucu, konyol, berantakan, tapi dia selalu seperti apadanya dirinya. Tutur katanya, kelakuannya, semuanya mencerminkan siapa dia. Sayangnya, dia terlalu penakut untuk mengambil sebuah keputusan.
Aku tau siapa dia, seperti apa dia, bagaimana dia, apa saja yang dilakukannya, semua dilakukannya dengan tulus, terkadang dia sedikit mengeluh, tapi hanya sebentar, hanya sekedar untuk menghilangkan rasa yang mengganjal di hatinya.
Dia memang tidak sempurna, aku tau persis seperti apa pergaulannya, bebas, sangat amat bebas, tanpa batasan, tanpa larangan. Tapi, dia selalu tau bagaimana membatasinya.
Sayang, ya mungkin dulu aku menyayanginya, sekarang mungkin aku membutuhkannya.
Banyak hal yang kulalui dengannya, senang, susah, sakit, menyakiti, disakiti, dia bahkan hampir mengetahui seluruh hidupku, dan bagaima aku.
Memang, aku mengenalnya belum terlalu lama, tapi entahlah apa ini. Kadang berniat untuk mengakhiri, tapi, sekali lagi akan kembali seperti semula.
Entahlah apa yang sedang di rencanakan Tuhan untukku dan dia, tapi satu hal yang selalu aku ingat sampai saat ini, dia selalu datang di saat aku kadang berniat untuk pergi dan megakhiri semuanya, dia selalu datang, dan selalu menjadi penguat bagiku tanpa pernah di sadarinya.
Dan sekarang setelah berbulan-bulan tanpa komunikasi, dia kembali, di saat yang aku lemah, lelah dan ingin pergi, dia kembali setelah berjanji untuk mengakhiri semuanya, entah untuk apa dia kembali, tapi kuharap kali ini menjadi lebih baik dari sebelumnya, karna mungkin dia penguat bagiku.
Dan satu hal yang tak bisa ku bohongi, aku terlalu lemah tanpa dia.
Dia bukan mantan pacar, atau pacar, atau calon pacar, tapi dia penguatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar