Kamis, 29 Desember 2011

Masih childdish

Aku memang keras kepala, susah kalau di bilangin. Nekat, ngelakuin apa aja yang aku mau, tanpa pikir panjang dulu. Cablak, apa yang aku rasain aku omongin langsung. Emosian, aku sangat amat emosian gampang marah. Munafik, aku masih suka bohong, masih suka kecawain orang tua yang kasih kepercayaan ke aku. Aku sadar aku kayak anak kecil, masih childdish, masih plin-plan. Terserah kamu mau nilai apa tentang aku, toh aku nggak peduli, karna aku nggak suka ngurusin orang yang sok sibuk, sok care, sok baik taunya musuh dalam selimut. Ngurusin hidupku aja aku masih luntang-lantung, apa lagi kalu mau ngurusin hidup orang lain kayak kamu. Satu hal yang perlu kamu tau, aku sedang belajar tentang hidup.

Rabu, 28 Desember 2011

Malam Renungan

Sekarang tanggal 29 Desember 2011 jam 01.30, di mana detik-detik pergantian tahun sangat terasa. Tahun 2011, tahun di mana ada banyak hal yang kulakulakukan dan tejadi tanpa terkontrol. Tahun di mana aku mengalami semuanya, bisa di bilang ini adalah tahun pendewasaan buatku. Ada banyak kekecewaan yang ku timbulkan pada orang-orang di sekitarku. Terutama orang tuaku, dan yang kedua adalah 2 lelaki yang juga mengajarkanku segala hal tapi juga membuatku merasakan semua hal. Jujur hal yang paling sulit adalah saat melihat orang yang kusayang kecewa padaku. Ada banyak yang terjadi, terkadang aku berpikir untuk pergi, yang ku sadari aku terlalu malu untuk tetap bertahan dengan semua kesalahan yang kuperbuat. Tapi, aku juga bukan seorang pengecut yang lari dari masalah yang ku buat. Yang ku ingin hanya sederhana, memperbaiki semuanya. Sederhana namun sulit jika kau seorang pengecut.
Orang tuaku, selalu memberi kepercayaan padaku, namun sangat sering pula aku menghancurkan itu, ku harap Tuhan membatuku untuk menyelesaikan masalah terakhir yang ku buat.Amin.
2 lelaki yang hadir secara bersamaan, di tempat yang sama dan waktu yang sama. Buatku mereka sangat amat mengajariku banyak hal. Yang akhirnya kecewa karna sifatku. Entah siapa yang lebih sakit diantara kami, karna semua merasa sakit. Entah apa yang sekarang sedang kami rasakan antara satu dan lainnya, namun ada celah yang sangat terlihat jelas diantara semua. Saat di mana kejujuran dan kepercayaan satu dan lainnya hilang, saat di mana sangat mengganggu kehidupan kami yang lain. Saat di mana ingin menyakiti karna merasa di khianati. Saat lelah yang akhirnya harus berakhir, saat di mana salah satu dari kami lebih memilih pergi dan mendapat hidupnya yang baru dan bahagia, entah apa dia memang bahagia, atau hanya berpura-pura, kuharap dia benar-benar bahagia. Dan saat yang tertinggal hanya aku dan dia, semua berbeda. Entah mengapa, namun sangat terlihat ingin menjauhi satu sama lainnnya. Dan akhirnya yang tertinggal pun mengakhiri. Kini, semua hidup dengan hidup masing-masing, mungkin hanya aku yang terkadang memimikirkan, dan mungkin bukan terkadang tetapi setiap saat.
Malam ini mungkin kami semua sedang bermasalah, namun hanya menutupi agar terlihat lebih kuat diantara yang lainnya. Yang ku harap Tuhan selalu menyayangi kita, dan membatu kita untuk menyelesaikan semuanya.

Sayang dan cinta yang mulai aku mengerti, yang mulai ku pahami saat semuanya terlambat. Sayang, rasa yang kau tujukan untuk siapa saja, namun tidak pada cinta, cinta itu bisa saja menyakitimu karna ia tak seperti sayang yang lebih mudah di mengerti, lebih mudah untuk dirasakan dan lebih mudah menyadari saat ia datang. Cinta lebih rumit, karna ia tidak hanya memberi bahagia, namun ia juga memberi sakit yang amat sangat agar kau bisa kuat dan bertahan untuk mejaganya. Yang akan kau tinggalkan saat kau menjadi pengecut, dan kau akan mendapat sayang yang hanya mengajarkan rasa, rasa yang  akan sangat menjadi hambar saat kau mulai buta dengan semuanya. Dan saat itu pula yang muncul hanya penyesalan yang membuatmu sakit. Entah bagaimana caramu menaggapinya, namun hanya ada dua kemungkinan apa kau akan belajar, memahami dan mendewasakan diri? atau kau akan jatuh lebih dalam dan sangat amat dalam dan tetap dalam dunia bermainmu?














Kamis, 08 Desember 2011

karena dia Ayahku

Dia ayahku. Seseorng yang membuatku dapat terlahir di dunia. Dia tidak sempurna, karna memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dia sosok yang sangat tegas dan juga keras dalam mendidik keluarganya, tapi dia tidak berhasil dengan baik untuk dirinya sendiri. Dia berbeda. Setiap malam dia selalu pergi keluar rumah, suatu keajaiban bila ia tetap berada di rumah sampai matahari terbit. Dia sangat ringan tangan, tidak segan ia berlaku kasar padaku atau pada adikku saat kami melakukan kesalahan, walaupun itu hanya kesalahan kecil, tapi yang membuatku salut padanya adalah sampai hari ini, dia tidak pernah berlaku kasar pada ibuku, atau bahkan memiliki wanita lain selain ibuku. Ada sangat banyak kekurangan ayahku, bahkan ada banyak pula yang membuatku sakit hati dan benci padanya. Dulu, bahkan aku sangat membencinya, sangat amat membencinya. Apalagi setelah mengetahui apa yang dilakukannya saat aku masih kecil. Dia meniggalkanku serta ibuku, bahkan ia sempat tidak mengakuiku. Bayangkan saja aku baru bisa hidup dan bertemu dengannya setelah aku berusia 4 tahun. Itupun harus dengan perjuangan kakekku untuk mencarinya. Dia bukan tipe orang pekerja keras, dia lebih suka santai dan mengharap bantuan keluarganya yang memiliki hidup lumayan. Dia bahkan bisa tidur seharian tanpa bekerja saat ibuku sedang bekerja.
Aku memang membencinya, tapi aku juga sangat menyayanginya. Terkadang ia bisa menjadi pribadi yang sangat menyenangkan, dia bercanda, mengajariku mengaji bahkan sampai aku menangis. jika ada satu hal yang bisa langsung diwujudkan saat itu juga oleh Tuhan ,aku hanya ingin meminta "Tuhan, hapus semua rasa benci dan dendam yang kupunya untuk ayahku, karna dia ayahku"